Berita Dan Peristiwa ,Politik Dana Mbojo

Harga Jagung Petani Anjlok, PT CPI Cabang Bima Siap Membeli Jagung Kering KA 15 Harga Rp4.400

Harga Jagung Petani Anjlok, PT CPI Cabang Bima Siap Membeli Jagung Kering KA 15 Harga Rp4.400

Tak Layak Lagi Dapat Bantuan, Penerima PKH dan BPNT 2024 Tahap 1 Ini Dicoret dari DTKS

Pemerintah mempercepat penyaluran bantuan sosial (bansos) Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) tahap 1 tahun 2024 menjelang Pemilu

Kamis, 30 November 2023

Mengingat Kembali Sejarah Kesultanan Bima serta Peninggalannya


Kesultanan Bima adalah salah satu kerajaan islam yang saat itu didirikan pada tanggal 6 Februari 1621. Raja Kesultanan Bima yang pertama merupakan raja ke 27 Kerajaan Bima yang bernama Lai Kai. Dalam sejarah Kesultanan Bima, sistem pemerintahannya sempat dipimpin oleh 14 sultan. Terkait asal usul hingga peninggalannya dapat anda simak sebagai berikut.

Asal Mula Berdirinya Kesultanan Bima

Kesultanan Bima terbentuk saat Raja Bima ke 27 yaitu Lai Kai mengubah pemerintahannya menjadi bentuk Kesultanan. Kesultanan ini berdiri pada tahun 1621 dan berakhir masa pemerintahannya pada tahun 1958. 

Pada awalnya Kerajaan Bima bercorak Hindu yang didirikan pada abad ke 11. Pada saat itu Kerajaan Bima disebut juga sebagai Kerajaan Mbojo.

Kerajaan ini dibentuk oleh Sang Bima. Sesaat setelah terbentuknya kerajaan, Sang Bima pergi ke Kerajaan Medang sehingga ia meminta putranya yang bernama Indra Zamrud untuk memimpin Kerajaan Bima dan Indra Kumala menjadi pemimpin di Dompu. 

Awal Kerajaan Bima berubah menjadi bentuk kesultanan karena ada pengaruh dari para pedagang Kesultanan Demak.

Para pedagang yang singgah menyebarkan agama Islam sehingga sejarah Kesultanan Bima dimulai. Tokoh penyebar Islam di tanah Bima adalah Sultan Alaudin yang datang pada tahun 1619. 

Beliau mengutus para pemuka agama ke wilayah Kesultanan Lawu, Tallo, dan Bone. Lai Kai yang merupakan Raja Bima memeluk Islam pada tahun 1030 hijriyah. 

Lokasi Kesultanan Bima

Kesultanan Bima berpusat di Pulau Bima dan wilayah kekuasaannya meliputi bagian timur Sumbawa, Manggarai, dan beberapa pulau kecil di Selat Alas. Wilayah pemerintahannya berbatasan langsung dengan Laut Jawa dan Samudera Hindia. Lokasinya cukup strategis sebagai jalur perdagangan.

Pada tahun 1938, wilayah Kesultanan Bima sempat mengalami penyempitan akibat adanya perjanjian yang telah dibuat dengan Gubernur Hindia Belanda. 

Wilayah kekuasaan Kesultanan Bima bagian timur hanya sampai Manggarai dan sebelah barat adalah Dompu. Namun pada tahun 1928, Kesultanan Bima memperoleh kekuasaan Kerajaan Sanggar.

Raja dan Masa Kejayaan Kesultanan Bima

Awal mula terbentuknya Kesultanan Bima adalah saat La Kai memeluk Islam sehingga dia dinobatkan sebagai sultan pertama. Sejarah Kesultanan Bima sebenarnya sama seperti kesultanan yang lain karena Kesultanan Bima juga melalui banyak pergantian raja. 

Sultan Ismail menjadi salah satu sultan yang menjabat pada tahun 1819 hingga 1854. Sultan Bima yang terkenal selanjutnya adalah Sultan Abdul Kadim. Beliau menjadi sultan ke 8 Bima. 

Dirinya berkuasa sejak tahun 1765 dan diberlakukan berbagai aturan politik dan kerjasama dengan VOC. Sultan selanjutnya yang sempat memerintah adalah Sultan Abdul Hamdi. Beliau memimpin Kesultanan Bima mulai tahun 1773 M. 

Saat masa pemerintahan Sultan Hamid, seluruh kapal yang berlayar di sekirat Bima memperoleh izin dengan mudah. Sayangnya saat itu perdagangan Kesultanan Bima berada di bawah monopoli VOC. 

Sultan yang terkenal dari Kesultanan Bima adah Sultan Muhammad Salahuddin (1915 M). Beliau merupakan sultan yang dikenal karena membawa banyak perubahan.

Sultan Muhammad Salahuddin banyak mendirikan sekolah Islam, mengubah sistem politik dan pemerintahan. Serta membangun beberapa masjid di setiap desa yang berada di bawah Kesultanan Bima. Tak hanya itu, sistem peradilan juga dipertegas sesuai dengan peradilan Islam. Beliau juga berperang untuk memperjuangkan berdirinya Indonesia.

Peninggalan Kesultanan Bima

1. Istana Asi Mbojo

Dalam sejarah Kesultanan Bima, salah satu bukti peninggalannya adalah Istana Asi Mbojo. Istana ini sebelumnya telah didirikan pada tahun 1888 dan pada tahun 1929 kembali digunakan. Istana Mbojo adalah tempat tinggal para sultan yang memimpin Kesultanan Bima nersama dengan para keluarga dan kerabat kesultanan.

2. Istana Asi Bou

Tak hanya Istana Asi Mbojo, peninggalan Kesultanan Bima yang lainnya adalah Istana Asi Bou. Istana Asi Bou pada zaman dahulu merupakan tempat singgah bagi para sultan beserta keluarganya. Istana Asi Bou tak semegah Istana Asi Mbojo dan bentuknya adalah seperti rumah panggung dan dibangun dengan uang pribadi Sultan Salahuddin.

3. Masjid Sultan Muhammad Salahuddin

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Salahuddin, masjid ini dibangun kembali. Pada awalnya, masjid ini sudah berdiri sejak pemerintahan Sultan Kadim namun kondisinya telah rusak parah karena memang telah dibangun sejak tahun 1737 M. Inilah yang menyebabkan nama masjid ini adalah Masjid Salahuddin.

4. Masjid Al Muwahiddin

Tah hanya Masjid Sultan Muhammad Salahuddin, terdapat pula sebiah masjid yang sempat menjadi salah satu saksi sejarah Kesultanan Bima. Masjid ini bernama Masjid Al Muwahiddin. 

Masjid ini dibangun pada tahun 1946 sebagai salah satu tempat ibadah dan tempat pembelajaran agama Islam untuk menggantikan Masjid Sultan Muhammad Salahiddin yang waktu itu rusak.

Demikianlah penjelasan terkait dengan kisah Kesultanan Bima. Kerajaan Bima yang awalnya tidak menganut agama Islam akhirnya berubah menjadi bentuk kesultanan setelah La Kai sebagai salah satu sultannya menganut Islam. Hal ini tentu menjadi bukti bahwa penyebaran Islam di Nusantara sangat luas hingga hanya tersebar di wilayah Jawa saja. 



SALAM NDAI SILA MAJA LABO DAHU NDAI MBOJO RO DOMPU

Rabu, 29 November 2023

Warga Tiga Desa di Bima NTB Bentrok, 1 Orang Terkena Panah


BIMA, - Sekelompok warga dari Desa Talabiu, Penapali dan Dadibou di Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), terlibat bentrok pada Kamis (23/11/2023) malam. Warga tiga desa tersebut saling serang menggunakan kayu, batu hingga senjata tajam (sajam). Satu orang warga Desa Talabiu bernama Arsyad terpaksa dilarikan ke rumah sakit akibat terkena anak panah. "Bentrokan ini buntut dari adanya kasus pembacokan kemarin, korbannya itu warga Desa Dadibou," kata Camat Woha Irfan saat dikonfirmasi, Kamis.

Irfan menjelaskan, pada Rabu (22/11/2023) dini hari warga Desa Dadibou bernama Mulyadin (35) menjadi korban pembacokan di sekitar Ponpes Al Maliki di Desa Talabiu. Atas kejadian itu warga Desa Dadibou kemudian menggelar aksi blokade jalan raya untuk mendesak polisi menangkap pelaku. Namun, karena minimnya saksi, polisi kesulitan mengungkap pelaku pembacokan yang dicurigai berasal dari Desa Talabiu. "Blokade jalan hari pertama sempat dibuka polisi setelah warga mendapat pemahaman bahwa kasus itu dalam proses penyelidikan," ujarnya.

Sehari berselang tepatnya pada Kamis (23/11/2023) sore, warga Desa Dadibou yang kecewa lantaran pelaku tak kunjung diungkap polisi kembali memblokade jalan raya.

Selain itu, mereka juga diduga membakar gudang tempat penyimpanan garam milik warga Desa Talabiu dan Penapali yang berada di batas desa. Buntut dari kejadian itu warga dari Desa Talabiu dan Penapali kemudian saling serang dengan warga Desa Dadibou.

"Karena ada pembakaran tempat penyimpanan garam itu sehingga terjadi aksi saling serang menggunakan senjata tajam," jelasnya. Menurutnya, ketegangan antar kelompok warga dari tiga desa ini berlangsung sekitar satu jam. Mereka membubarkan diri setelah anggota TNI dan Polri turun mengamankan lokasi. Kendati sudah kondusif, lanjut Irfan, aparat keamanan masih disiagakan di lokasi untuk mengantisipasi terjadinya bentrokan susulan. "Untuk satu warga yang terkena anak panah sekarang masih dirawat di rumah sakit Bima," ungkapnya.

Kapolsek Woha AKP Syaiful Anhar membenarkan adanya bentrokan warga dari tiga desa tersebut. Namun, ia belum bisa memberikan keterangan secara detail terkait persoalan ini karena masih berada di luar daerah. "Memang ada bentrokan itu, cuma saya belum bisa kasih penjelasan ini karena masih di Mataram," kata Syaiful Anhar.



SALAM NDAI SILA MAJA LABO DAHU NDAI MBOJO RO DOMPU

Jembatan Hanyut, Distribusi LPG 3 KG Tersendat

Banjir, Jembatan di Desa Sondosia – Kabupaten Bima Macet Parah





Kabupaten Bima : Banjir sungai yang terjadi sejak Senin 27 November 2023 hingga Selasa 28 November 2023 menyebabkan jembatan alternatif di Desa Sondosia, Kecamatan Bolo, Kabupaten Bima, tidak bisa dilewati. Pasalnya jembatan yang dibangun belum rampung.

Akibatnya kemacetan panjang terjadi. Mengurai kemacetan itu, Personel Polsek Bolo Polres Bima mengatur arus lalu lintas.

Kapolsek Bolo, IPTU Nurdin mengatakan, kemacetan panjang itu disebabkan oleh hanyutnya jembatan alternatif dikarenakan jembatan utama masih dalam proses pengerjaan. Jembatan alternatif itu hanyut diakibatkan oleh adanya banjir kiriman dari Kecamatan Madapangga yang diguyur hujan dengan intensitas tinggi. 



Setelah itu personel Polsek Bolo dan personel Koramil setempat serta Pol PP kecamatan Bolo melakukan pengalihan arus lalulintas, kendaraan yang hendak menuju kota Bima dialihkan untuk melewati jalan alternatif Desa Kara dan keluar di Desa Sanolo dan sebaliknya.

Kapolres Bima AKBP Hariyanto SH, SIK melalui Kasi Humas Iptu Adib Widayaka membenarkan adanya kemacetan akibat hanyutnya jembatan alternatif di Desa Sondosia.

"Benar jembatan alternatif itu hanyut akiba banjir kiriman dari Wilayah Kecamatan Madapangga sehingga kami melakukan pengalihan jalur lalu lintas untuk mengurai kemacetan," katanya, Rabu (29/11/2023).

Masih Adib, untuk mobil Truk/Fuso dan Bus malam tidak diperbolehkan melewati jalan alternatif di Desa kara pasalnya selain jalannya sempit dan dikhawatirkan jembatan-jembatan kecil di jalan alternatif itu tidak bisa menahan beban muatan Truk/Fuso serta Bus malam.

Sambungnya, menunggu air surut kendaraan Truk/ Fuso serta Bus malam  diparkir sepanjang jalan mulai jembatan Desa Sondosia sampai Desa Sanolo. Untuk mencegah terjadinya gangguan Kamtibmas personel Polsek Bolo  Standby. 

_Syaiful Bahri Official_


SALAM NDAI SILA MAJA LABO DAHU NDAI MBOJO RO DOMPU

Minggu, 19 November 2023

MENGENAL SUKU DONGGO DI BIMA NUSA TENGGARA BARAT



MENGENAL SUKU DONGGO DI BIMA NUSA TENGGARA BARAT


Donggo adalah salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. Donggo merupakan salah satu suku besar yang berada di Dana Mbojo (Tanah Bima). Suku Donggo terletak di sekitar lereng gunung yang berada di antara Kabupaten Bima dan Kabupaten Dompu, dilihat dari letak geografisnya yang berada di lereng gunung membuat pesona desa-desa yang berada di Kecamatan Donggo semakin terlihat.

Apalagi ketika kita berada di puncak gunung Donggo yang dikenal dengan (Donggo Mbuha). Banyak sekali pemuda-pemuda Donggo juga pemuda luar yang datang hanya untuk menikmati keindahan diatas puncak Donggo. Dan dari situlah kita dapat melihat seluruh hamparan Kota Bima juga sebagian besar kabupaten Dompu dengan pesona alam yang menakjubkan.

Berdasarkan sejarah, suku Donggo merupakan suku asli dari masyarakat Bima yang menempati lereng Gunung Barat dan Timur sebelum datangnya orang-orang luar yang ikut bermukim di Bima. Yaitu yang di sebut dengan Dou Donggo Ele (Masyarakat Donggo bagian Timur) yang sekarang menjadi Desa Lambitu yang berada di bagian Timur kabupaten Bima yang sebagiannya juga bertempat di Kota Bima. Dan Dou Donggo Di (Donggo bagian barat) yang sekarang menjadi masyarakat Donggo atau yang berada di kecamatan Donggo itu sendiri.

La Hila adalah nama Putri cantik anak dari raja Donggo dahulu kala, La Hila mempunyai rambut sepanjang 7 buah bambu dan paras cantiknya sangat menggoda para Raja yang melihatnya, kejadian yang melegenda dari La Hila yaitu dia dikubur hidup-hidup karena dia tidak ingin menerima lamaran dari salah satu Raja Bima, setelah kuburannya di buka ternyata jasad La Hila telah hilang, hingga sekarang masyarakat Donggo mempercayai bahwa La Hila sering menampakkan diri dengan wujud wanita cantik.




Di Donggo masyarakatnya masih menjada adat istiadat leluhurnya sehingga masih terdapat rumah yang dulunya bertempat tinggal kepala suku atau di sebut Ncuhi Donggo yang terdapat di Donggo Mbawa, ada dua agama yang dianut oleh masyarakat Donggo yaitu Kristen Katolik dan Islam, penganut agama Katolik di Donggo yang uniknya yaitu mereka memakai nama Islam akan tetapi agamanya Katolik.

Ada cerita rakyat yang menarik lagi di Donggo yaitu dahulu kala sebelum terbentuknya kerajaan Bima, Raja dari Pulau Jawa yang dulu pernah berjanji akan mengirim anaknya untuk memimpin tanah Mbojo (sebutan tanah Bima dahulu kala), sang Raja mengirim kedua anaknya ke Bima dengan sebatang bambu, kemudian di pinggir pantai Donggo hiduplah sepasang suami istri yang sudah tua renta dan belum mempunyai anak, tiap malamnya mereka berdua mendengarkan bunyi gendang yang sangat besar, dan mereka berdua pun memeriksa dari mana asal suara gendang tersebut tetapi mereka tidak menemukan sumber suara tersebut.

Ke esokkan harinya Ompu (panggilan sang suami) pergi kepinggir laut untuk mencari kayu bakar, dan dia menemukan sebatang Bambu kemudian Ompu mengambilnya membawa pulang kerumahnya, malam harinya suara gendang tersebut masih ada Ompu beserta istrinya sangat penasaran dari mana suara gendang tersebut. Pagi harinya Ompu akan membelah kayu yang dia kumpulkan dengan sebuah kapak, kemudian pas Ompu ingin memotong Bambu yang dia temukan di pinggir pantai, mengeluarkan suara yang melarang memotong bambu tersebut dan keluarlah dua pangeran bersaudara dari Bambu tersebut yang merupakan anak dari Raja Pulau Jawa yang datang untuk memimpin Bima seperti yang dijanjikan. Kemudian salah satu saudara tertua dari kedua bersaudara itu menjadi Raja Bima yang bernama Indra Zambrud yang menjadi asal usul Raja-raja Bima.






SALAM NDAI SILA MAJA LABO DAHU NDAI MBOJO RO DOMPU

Naka Dan Ncuhi Peradaban Awal Dana Mbojo






Naka Dan Ncuhi Peradaban Awal Dana Mbojo 


Oleh : Alan Malingi 

Masa Pra Sejarah Bima dikenal dengan Zaman Naka. Keterangan tertulis tentang masa ini tidak ada. BO(Kitab Kuno Kerajaan Bima) hanya menceritakan bahwa sebelum masa Ncuhi, masyarakat Bima hidup dalam zaman Naka. Ciri kehidupan zaman ini hampir sama dengan ciri kehidupan zaman pra sejarah pada umumnya yaitu nomaden, food gathering, belum mengenal tulisan, belum mengenal pertanian dan peternakan dan menganut kepercayaan Makamba  Makimbi , sejenis dengan kepercayaan animisme dan dinamisme. Diperkirakan pendukung zaman naka adalah orang-orang Donggo yang merupakan penduduk Asli Bima atau juga mereka sudah terdesak ke timur seperti Flores, Sumba dan sekitarnya.

Bukti terdesaknya masyararakat pendukung peradaban Naka ini adalah dari tradisi tutur masyarakat di Desa Tarlawi kecamatan Wawo kabupaten Bima. Mereka menyebut orang orang dari luar klan mereka dengan istilah “ Saru “ atau musuh. “ Saru Apa Mai ? Musuh darimana yang datang?. Demikian diungkapkan oleh salah seorang tetua setempat kepada penulis dan tim Makembo yang melaksanakan kemah budaya di Tarlawi pada tanggal 28 Juli 2018.

Dari tutur yang tersebar di masyarakat setempat memberikan satu garis arah, bahwa peradaban Naka ini tersingkir akibat kedatangan orang-orang luar dan munculnya peradaban baru di tanah Bima. Pada masa lalu, masyarakat Donggo Ele terdiri dari 4 klan masyarakat yaitu Sambori, Teta, Kuta, dan Tarlawi. Orang Sambori menempati pesisir Talabiu, orang Kuta menempati pesisir Kolo, orang Teta menempati wilayah pesisir Ambali hingga Tala Piti dan Orang Tarlawi menempati pesisir pantai Mawu 

Setelah orang orang luar dengan peradabannya yang lebih maju masuk ke tanah Bima, maka empat kelompok tersebut akhirnya menyingkir menyusuri lembah dan pegunungan dengan pola hidup nomaden dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Mereka akhirnya tiba di tempat baru di Tarlawi,Kuta, Teta dan Sambori. Khusus Sambori, Yusuf Alwi mengemukakan bahwa Sambori berasal dari Kata Sampori atau melepaskan diri dari kelompok induknya. 

Salah satu bukti keberadaan zaman Naka adalah temuan Tim Ekskursi Uma Lengge dari Mahasiswa dan Dosen Fakultas Arsitektur Universitas Indonesia tahun 2017. Mereka membagi tiga tim penelitian yaitu Tim Wawo, Tim Donggo dan Tim Sambori. Mereka menemukan satu hunian yang lebih awal dari Uma Lengge yaitu Lege, sejenis rumah pohon di pegunungan Sambori. Temuan itu dituangkan dalam sebuah buku dengan judul “ Bima, antara Padi Dan Atsitektur. “ 
Masa Ncuhi merupakan masa ambang sejarah (Proto Sejarah).  

Pada masa ini masyarakat sudah hidup berkelompok, menetap, mengenal pertanian dan peternakan. Mereka sudah mulai hidup teratur di bawah pimpinan wilayah yang disebut NCUHI. Bo menulis : Sawatipu ba londona sia sangaji, wa’ura wara dou labo dana ( Sebelum datangnya Sangaji (Raja) sudah ada orang dengan tanahnya ). Bo juga menulis : Ndi tangara kai Ncuhi, ededu dumu dou, inampu’una ba weki ma rimpa, ndi batu wea ta lelena, ndi siwi wea ta nggawona.  Artinya, Ncuhi adalah manusia utama, penghulu masyarakat serumpun, diharapkan pengayomannya, untuk diikuti arah condongnya. 

Ncuhi adalah pemimpin kharismatik tradisional yang menguasi wilayah gunung dan lembah. Nama Ncuhi diambil dari nama gunung dan lembah yang dikuasainya. Ncuhi asal kata Ncuri atau Suri yang menjadi cikal bakal kehidupan. Ada banyak Ncuhi di Bima. Ada Ncuhi Lambu, Jia, Buncu, Sape, Kabuju, Kolo, Padolo, Mola dan lain-lain. Mungkin jumlahnya ada ratusan orang. Tapi ada lima Ncuhi induk yang merupakan pimpinan wilayah yang membawahi Ncuhi-ncuhi tersebut yaitu Dara (Wilayah Tengah,pusat kota), Dorowuni (Wilayah Timur) Bolo (wilayah Barat) ,Banggapupa( Wilayah Utara) dan Parewa ( Wilayah Selatan). Lima Ncuhi inilah yang kemudian mengadakan musyawarah di Doro Babuju untuk mengangkat seseorang yang bergelar Sang Bima menjadi Raja.
Pada masa Ncuhi, Bima telah menjalin hubungan dengan negeri-negeri di luar. Hal itu didukung oleh teluk dan pelabuhan alamnya yang tenang dan indah. Teluk Bima menjadi tempat persinggahan terbaik bagi para pelaut dan pedagang dari berbagai negeri. Hasil alam Bima juga diminati seperti kayu Songga, Sopa, pewarna, Rotan, Kerbau, kuda, padi dan palawija serta hasil alam lainnya. 

Sejak Abad XII Masehi, kuda asal Bima sudah tersohor di Nusantara. Saat itu, para pedagang dari berbagai penjuru datang membeli Kuda Bima, kemudian dijual di negeri asalnya untuk dijadikan tunggangan para raja, bangsawan, dan panglimaperang.   Dalam Kitab Negara Kertagama dinyatakan, Raja-raja dan panglima perang Kerajaan Kediri, Singosari, dan Majapahit,  selalu memilih Kuda Bima untuk memperkuat armada kavalerinya. Para Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Batavia pun sering meminta dikirimi Kuda Bima yang dinilai sebagai jenis kuda terbaik di Kepulauan Hindia Belanda. Kuda Bima dinilai sebagai sarana transportasi yang tangguh karena kuat membawa beban hasil panen, tahan cuaca panas, serta jinak. 

Kesimpulan 

1. Bukti keberadaan zaman Ncuhi adalah tersebarnya temuan peninggalan para Ncuhi seperti di Sape, Lambu, Parado, Woha, Monta, Wawo, Donggo, Kota Bima dan wilayah lainnya di Bima. 
2. Bukti lain adalah tersebarnya cerita rakyat atau legenda di wilayah Bima. Kegenda tentang Ncuhi Parewa, Ncuhi Buncu, Ncuhi Kabuju, Ncuhi Mola, Ncuhi Dara, Ncuhi Dorowuni, Ncuhi Bolo, Ncuhi Banggapupa,  dan lain lain.
3. Keberadaan Ncuhi juga disebutkan dalam BO Sangaji Kai maupun BO kerajaan Bima lainnya terutama tentang kedatangan Sang Bima dan pembentukan federasi Ncuhi yang diketuai oleh Ncuhi Dara. Lima federasi Ncuhi itu membagi wilayah kekusaannya dengan batas teluk Bima yaitu Ncuhi Dara menguasai wilayah tengah. Ncuhi Parewa di wilayah selatan, Ncuhi Banggapupa di wilayah utara, ncuhi Dorowuni di wilayah timur dan Ncuhi Bolo di wilayah barat. 
4. Perlu penelitian lebih lanjut tentang peradaban zaman Naka dan Ncuhi. Pemerintah Daerah harus proaktif menggandeng komunitas dan masyarakat dalam rangka mengumpulkan peninggalan zaman Naka dan Ncuhi.
 
Referensi

1. Anhar Gonggong, DR, Komunikasi Dalam Masyarakat Majemuk Dalam Integrasi Bangsa, Mataram, 1995.
2. Hilir Ismail M., Peran Kesultanan Bima Dalam Perjalanan Sejarah Nusantara,
3. Massier Abdullah, Bo (Suatu Himpunan Catatan Kuno Daerah Bima), Proyek Pengembangan Permuseuman Nusa Tenggara Barat, Depdikbud NTb, 1981/1982.
4. Sejarah Bima Dana Mbojo, Abdullah Tayib, BA
5. Chambert Loir Henry, Sitti Maryam R. Muhammad Salahuddin,” Bo Sangaji Kai”, Yayasan Obor, Jakarta, 1999.
6. Hilir Ismail & Alan Malingi, Jejak Para Sultan Bima. 
7. Tim Ekskursi Uma Lengge, Universitas Indonesia 2017. Bima Antara Padi Dan Arsitektur

Disampaikan pada : Kajian Sejarah Dan Budaya, Asi Mbojo 23 Februari 2020.


SALAM NDAI SILA MAJA LABO DAHU NDAI MBOJO RO DOMPU

LAYAK KAH SULTAN MUHAMMAD SALAHUDDIN BIMA MENJADI PAHLAWAN NASIONAL



LAYAK KAH SULTAN MUHAMMAD SALAHUDDIN BIMA MENJADI PAHLAWAN NASIONAL


Sultan Muhammad Salahuddin Bima, adalah seorang pahlawan yang telah lama dinominasikan untuk menjadi Pahlawan Nasional. Namun, hingga kini, nominasi tersebut belum berhasil terealisasi. Namun, jika kita melihat rekam jejaknya dan warisan perjuangannya, alangkah pantasnya dia diangkat menjadi pahlawan nasional.

Almarhum Alan Malingi, seorang tokoh terkemuka di Bima, dengan tegas menyatakan bahwa perjuangan Sultan Muhammad Salahuddin adalah contoh yang harus diikuti dan diperhatikan, bukan hanya oleh generasi saat ini, tetapi juga oleh generasi mendatang. Ia berpendapat bahwa pahlawan sejati adalah mereka yang berani berbuat melampaui batas kemampuan diri mereka. Contohnya, Soekarno, seorang insinyur tehnik, mampu menjadi proklamator dan lokomotif sebuah bangsa, yang merupakan dedikasi yang melebihi kapasitas tekniknya.

Sultan Muhammad Salahuddin memiliki dedikasi yang tak kalah besar dalam berbagai aspek. Dia adalah seorang intelektual yang sangat mencintai ilmu pengetahuan, dengan koleksi sekitar 38 kitab ilmu agama Islam yang masih tersimpan di Museum Samparaja Bima. Di sana juga terdapat arsip surat-surat penting yang berasal dari masa pemerintahannya.

Sultan Muhammad Salahuddin juga adalah seorang penulis yang prolifik. Di Museum Samparaja, Anda dapat menemukan sejumlah naskah khutbah Jumat yang ditulis oleh Sultan. Salah satunya adalah "Nurul Mubin," yang merupakan hasil suntingan Sultan dari kitab lama pada abad ke-18. Karyanya ini bahkan diterbitkan oleh penerbit Syamsiah Solo pada tahun 1932.

Namun, Sultan Muhammad Salahuddin bukan hanya seorang akademisi, dia juga seorang pemimpin yang visioner. Pada masa pemerintahannya, pergerakan kemerdekaan menjadi dinamis di Bima. Berbagai organisasi perjuangan tumbuh pesat, dan Sultan mendukung serta memfasilitasi berbagai organisasi pergerakan kemerdekaan tersebut.

Sultan juga memberikan otonomi dan memberikan peluang sebesar besarnya, kepada RAKYAT DOMPU UNTUK MELEPASKAN DIRI DARI BIMA. Sehingga pada September 1947, Tajul Arifin Sirajuddin dinobatkan menjadi Sultan Dompu.

Selain itu, Sultan juga adalah salah satu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dan mendirikan Darul Ulum Bima. Selama kepemimpinannya, Sultan mendukung partai politik dan menunjukkan toleransi terhadap umat non-Muslim.

Pendidikan juga menjadi fokus Sultan Muhammad Salahuddin. Selama masa pemerintahannya, ia mendirikan sekitar 60 sekolah yang menjadi cikal bakal Sekolah Rakyat dan Sekolah Dasar di Bima. Selain pendidikan modern, ia mendatangkan guru non-Muslim untuk mengajar ilmu pengetahuan umum, memastikan pembangunan sekolah Islam, dan memberikan dukungan finansial untuk bea siswa pelajar Bima hingga ke Mekkah.

Tidak kalah pentingnya, Sultan Muhammad Salahuddin adalah seorang nasionalis sejati. Dalam maklumat pada tahun 1945, ia menyatakan bahwa Kerajaan Bima berdiri di belakang Republik Indonesia. Ia juga menekankan pentingnya menjaga amanat proklamasi dalam pidatonya ketika menyambut kunjungan Bung Karno pada tahun 1946.

Terakhir, Sultan Muhammad Salahuddin adalah seorang pelopor pembangunan. Banyak bangunan bersejarah yang dibangun selama masa pemerintahannya yang masih berdiri hingga saat ini, seperti Asi Mbojo, pendopo bupati, kantor wali kota lama di Raba, Masjid Al Muwahiddin, dan banyak fasilitas publik lainnya.

Semua pencapaian besar dalam berbagai aspek ini menunjukkan bahwa Sultan Muhammad Salahuddin adalah tokoh yang luar biasa dan pantas diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Sungguh waktunya bagi Sultan Muhammad Salahuddin untuk mendapatkan penghormatan yang pantas sebagai pahlawan nasional. Dengan mengenal lebih dekat sosok beliau, kita dapat lebih memahami warisan perjuangan yang berharga bagi bangsa Indonesia.

tulisan diatas adalah beberapa informasi yang berhasil saya rangkum dan menjadi beberapa alasan mengapa SULTAN MUHAMMAD SALAHUDDIN BIMA layak menjadi PAHLAWAN NASIONAL

sekiranya pembaca dapat memberikan komentar positif dan memberikan informasi tambahan mengenai sulthan tersebut.

Jangan lupa beri tanggapan, pendapat atau masukan pada postingan saya yang berjudul

LAYAK KAH SULTAN MUHAMMAD SALAHUDDIN BIMA MENJADI PAHLAWAN NASIONAL

"SALAM NDAI SILA MAJA LABO DAHU NDAI MBOJO RO DOMPU"

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More