Kamis, 25 Juli 2013

SEJARAH SINGKAT KOTA BIMA NTB

Kabupaten Bima Adalah Sebuah Kabupaten di
Nusa Tenggara Barat IndoneSia Ibu Kotanya
ialah Woha

SEJARAH SINGKAT

Kabupaten Bima berdiri pada tanggal 5 Juli
1640 M, ketika Sultan Abdul Kahir dinobatkan
sebagai Sultan Bima I yang menjalankan
Pemerintahan berdasarkan Syariat Islam.
Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai Hari
Jadi Bima yang diperingati setiap tahun. Bukti-
bukti sejarah kepurbakalaan yang ditemukan di
Kabupaten Bima seperti Wadu Pa’a, Wadu
Nocu, Wadu Tunti (batu bertulis) di dusun
Padende Kecamatan Donggo menunjukkan
bahwa daerah ini sudah lama dihuni manusia.

Dalam sejarah kebudayaan penduduk Indonesia
terbagi atas bangsa Melayu Purba dan bangsa
Melayu baru. Demikian pula halnya dengan
penduduk yang mendiami Daerah Kabupaten
Bima, mereka yang menyebut dirinya Dou
Mbojo, Dou Donggo yang mendiami kawasan
pesisir pantai. Disamping penduduk asli, juga
terdapat penduduk pendatang yang berasal
dari Sulawesi Selatan, Jawa, Madura,
Kalimantan, Nusa Tenggara Timur dan Maluku.

Kerajaan Bima

Kerajaan Bima dahulu terpecah–pecah dalam
kelompok-kelompok kecil yang masing-masing
dipimpin oleh Ncuhi. Ada lima Ncuhi yang
menguasai lima wilayah, yaitu:
1. Ncuhi Dara, memegang kekuasaan
wilayah Bima Tengah
2. Ncuhi Parewa, memegang kekuasaan
wilayah Bima Selatan
3. Ncuhi Padolo, memegang kekuasaan
wilayah Bima Barat
4. Ncuhi Banggapupa, memegang kekuasaan
wilayah Bima Utara
5. Ncuhi Dorowani, memegang kekuasaan
wilayah Bima Timur
Kelima Ncuhi ini hidup berdampingan secara
damai, saling hormat menghormati dan selalu
mengadakan musyawarah mufakat bila ada
sesuatu yang menyangkut kepentingan
bersama. Dari kelima Ncuhi tersebut yang
bertindak selaku pemimpin dari Ncuhi lainnya
adalah Ncuhi Dara. Pada masa-masa
berikutnya, para Ncuhi ini dipersatukan oleh
seorang utusan yang berasal dari Jawa.
Menurut legenda yang dipercaya secara turun
temurun oleh masyarakat Bima, cikal bakal
Kerajaan Bima adalah Maharaja Pandu Dewata
yang mempunyai 5 orang putra, yaitu:
Darmawangsa
Sang Bima
Sang Arjuna
Sang Kula
Sang Dewa

Salah seorang dari lima bersaudara ini yakni
Sang Bima berlayar ke arah timur dan
mendarat di sebuah pulau kecil di sebelah
utara Kecamatan Sanggar yang bernama
Satonda. Sang Bima inilah yang
mempersatukan kelima Ncuhi dalam satu
kerajaan, yakni Kerajaan Bima dan Sang Bima
sebagai raja pertama bergelar Sangaji. Sejak
saat itulah Bima menjadi sebuah kerajaan yang
berdasarkan Hadat dan saat itu pulalah Hadat
Kerajaan Bima ditetapkan berlaku bagi seluruh
rakyat tanpa kecuali. Hadat ini berlaku terus
menerus dan mengalami perubahan pada masa
pemerintahan raja Ma Wa’a Bilmana. Setelah
menanamkan sendi-sendi dasar pemerintahan
berdasarkan Hadat, Sang Bima meninggalkan
Kerajaan Bima menuju timur, tahta kerajaan
selanjutnya diserahkan kepada Ncuhi Dara
hingga putra Sang Bima yang bernama Indra
Zamrud sebagai pewaris tahta datang kembali
ke Bima pada abad XIV/XV.

Hubungan darah antara Bima, Bugis dan
Makassar

Hubungan kekerabatan dan kekeluargaan yang
terjalin selama kurun waktu 1625–1819 (194
tahun) pun terputus hingga hari ini. Hubungan
kekeluargaan antara dua kesultanan besar di
kawasan Timur Indonesia, yaitu Kesultanan
Gowa dan Kesultanan Bima terjalin sampai
pada turunan yang ke VII. Hubungan ini
merupakan perkawinan silang antara Putra
Mahkota Kesultanan Bima dan Putri Mahkota
Kesultanan Gowa terjalin sampai turunan ke VI,
sedangkan yang ke VII adalah pernikahan Putri
Mahkota Kesultanan Bima dan Putra Mahkota
Kesultanan Gowa.
Ada beberapa catatan yang ditemukan, bahwa
pernikahan Salah satu Keturunan Sultan
Ibrahim (Sultan Bima ke XI) masih terjadi
dengan keturunan Sultan Gowa, sebab pada
tahun 1900 (pada kepemimpinan Sultan
Ibrahim), terjadi acara melamar oleh
Kesultanan Bima ke Kesultanan Gowa. Mahar
pada lamaran tersebut adalah Tanah Manggarai
yang dikuasai oleh kesultanan Bima sejak abad
17. [rujukan? ]
↑Kembali ke bagian sebelumnya

Geografi

Letak
Kabupaten Bima merupakan salah satu Daerah
Otonom di Provinsi Nusa Tenggara Barat,
terletak di ujung timur dari Pulau Sumbawa
bersebelahan dengan Kota Bima (pecahan dari
Kota Bima). Secara geografis Kabupaten Bima
berada pada posisi 117°40”-119°10” Bujur
Timur dan 70°30” Lintang Selatan.
[1] TOPOGRAFI

Secara topografis wilayah Kabupaten Bima
sebagian besar (70%) merupakan dataran tinggi
bertekstur pegunungan sementara sisanya (30%
) adalah dataran. Sekitar 14% dari proporsi
dataran rendah tersebut merupakan areal
persawahan dan lebih dari separuh merupakan
lahan kering. Oleh karena keterbatasan lahan
pertanian seperti itu dan dikaitkan
pertumbuhan penduduk kedepan, akan
menyebabkan daya dukung lahan semakin
sempit. Konsekuensinya diperlukan
transformasi dan reorientasi basis ekonomi
dari pertanian tradisional ke pertanian
wirausaha dan sektor industri kecil dan
perdagangan. Dilihat dari ketinggian dari
permukaàn laut, Kecamatan Donggo merupakan
daerah tertinggi dengan ketinggian 500 m dari
permukaan laut, sedangkan daerah yang
terendah adalah Kecamatan Sape dan Sanggar
yang mencapai ketinggian hanya 5 m dari
permukaan laut.

Di Kabupaten Bima terdapat lima buah gunung,
yakni:
GUNUNG TAMBORA DI KECAMATAN TAMBORA
GUNUNG SANGIANG dI KECAMATAN WERA
GUNUNG MARIA dI KECAMATAN WAWO
GUNUNG LAMBITU di Kecamatan LAMBITU
Gunung SOROMANDI di Kecamatan DONGGO,
merupakan gunung tertinggi di wilayah ini
dengan ketinggian 4.775 m.

BATAS WILAYAH

Kabupaten Bima terletak di bagian timur Pulau
Sumbawa dengan batas-batas wilayah sebagai
berikut:
Utara
Laut Flores
Selatan
Samudera Indonesia
Barat
Kabupaten Dompu
Timur
Selat Sape
Pemekaran 2007
Pada tahun 2007 terjadi pemekaran wilayah
dengan penambahan 4 kecamatan baru, yaitu:
1. Parado
2. Lambitu
3. Soromandi
4. Pali'belo
Dengan adanya pemekaran ini, sekarang
Kabupaten Bima memiliki jumlah kecamatan
sebanyak 18 wilayah.

LUAS WILAYAH

Luas wilayah setelah pembentukan Daerah Kota
Bima berdasarkan Undang-undang Nomor 13
tahun 2002 adalah seluas 437.465 Ha atau
4.394,38 Km² (sebelum pemekaran 459.690 Ha
atau 4.596,90 Km²) dengan jumlah penduduk
419.302 jiwa dengan kepadatan rata-rata 96
jiwa/Km².

IKLIM & CUACA

Wilayah Kabupaten Bima beriklim tropis
dengan rata-rata curah hujan relatif pendek.
Keadaan curah hujan tahunan rata-rata tercatat
58.75 mm, maka dapat disimpulkan Kabupaten
Bima adalah daerah berkategori kering
sepanjang tahun yang berdampak pada kecilnya
persediaan air dan keringnya sebagian besar
sungai. Curah hujan tertinggi pada bulan
Februari tercatat 171 mm dengan hari hujan
selama 15 hari dan musim kering terjadi pada
bulan Juli, Agustus dan September dimana tidak
tejadi hujan. Kabupaten Bima pada umumnya
memiliki drainase yang tergenang dan tidak
tergenang. Pengaruh pasang surut hanya seluas
1.085 Ha atau 0,02% dengan lokasi terbesar di
wilayah pesisir pantai. Sedangkan luas lokasi
yang tergenang terus menerus adalah seluas
194 Ha, yaitu wilayah Dam Roka, Dam Sumi
dan Dam Pelaparado, sedangkan Wilayah yang
tidak pernah tergenang di Kabupaten Bima
adalah seluas 457.989 Ha.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar