Jumat, 26 Juli 2013

SEJARAH KOTA BIMA

SejaRah Kota Bima

Bima atau yang disebut juga dengan Dana
Mbojo telah mengalami perjalanan panjang dan
jauh mengakar ke dalam Sejarah. Menurut
Legenda sebagaimana termaktub dalam Kitab
BO (Naskah Kuno Kerajaan dan Kesultanan
Bima), kedatangan salah seorang musafir dan
bangsawan Jawa bergelar Sang Bima di Pulau
Satonda merupakan cikal bakal keturunan Raja-
Raja Bima dan menjadi permulaan masa
pembabakan Zaman pra sejarah di tanah ini.
Pada masa itu, wilayah Bima terbagi dalam
kekuasaan pimpinan wilayah yang disebut
Ncuhi. Nama para Ncuhi terilhami dari nama
wilayah atau gugusan pegunungan yang
dikuasainya.
Ada lima orang ncuhi yang tergabung dalam
sebuah Federasi Ncuhi yaitu, Ncuhi Dara yang
menguasai wilayah Bima bagian tengah atau di
pusat Pemerintah. Ncuhi Parewa menguasai
wilayah Bima bagian selatan, Ncuhi Padolo
menguasai wilayah Bima bagian Barat, Ncuhi
Banggapupa menguasai wilayah Bima bagian
Timur, dan Ncuhi Dorowuni menguasai wilayah
Utara. Federasi tersebut sepakat mengangkat
Sang Bima sebagai pemimpin. Secara De Jure,
Sang Bima menerima pengangkatan tersebut,
tetapi secara de Facto ia menyerahkan kembali
kekuasaannya kepada Ncuhi Dara untuk
memerintah atas namanya.
Pada perkembangan selanjutnya, putera Sang
Bima yang bernama Indra Zambrut dan Indra
Komala datang ke tanah Bima. Indra Zamrutlah
yang menjadi Raja Bima pertama. Sejak saat itu
Bima memasuki Zaman kerajaan. Pada
perkembangan selanjutnya menjadi sebuah
kerajaan besar yang sangat berpengaruh dalam
percaturan sejarah dan budaya Nusantara.
Secara turun temurun memerintah sebanyak
16 orang raja hingga akhir abad 16.
Fajar islam bersinar terang di seluruh Persada
Nusantara antara abad 16 hingga 17 Masehi.
Pengaruhnya sagat luas hingga mencakar tanah
Bima. Tanggal 5 Juli 1640 Masehi menjadi saksi
dan tonggak sejarah peralihan sistem
pemerintahan dari kerajaan kepada kesultanan.
Ditandai dengan dinobatkannya Putera
Mahkota La Ka’i yang bergelar Rumata Ma Bata
Wadu menjadi Sultan Pertama dan berganti
nama menjadi Sultan Abdul Kahir (kuburannya
di bukit Dana Taraha sekarang). Sejak saat itu
Bima memasuki peradaban kesultanan dan
memerintah pula 15 orang sultan secara turun
menurun hingga tahun 1951.
Masa kesultanan berlangsung lebih dari tiga
abad lamanya. Sebagaimana ombak dilautan,
kadang pasang dan kadang pula surut. Masa-
masa kesultanan mengalami pasang dan surut
disebabkan pengaruh imperialisme dan
kolonialisme yang ada di Bumi Nusantara. Pada
tahun 1951 tepat setelah wafatnya sultan ke-14
yaitu sultan Muhammad Salahudin, Bima
memasuki Zaman kemerdekaan dan status
Kesultanan Bima pun berganti dengan
pembentukan Daerah Swapraja dan swatantra
yang selanjutnya berubah menjadi daerah
Kabupaten.
Pada tahun 2002 wajah Bima kembali di
mekarkan sesuai amanat Undang-undang
Nomor 13 tahun 2002 melaui pembentukan
wilayah Kota Bima. Hingga sekarang daerah
yang terhampar di ujung timur pulau sumbawa
ini terbagi dalam dua wilayah administrasi dan
politik yaitu Pemerintah kota Bima dan
Kabupaten Bima. Kota Bima saat ini telah
memliki 5 kecamatan dan 38 kelurahan.
Sebagai sebuah daerah yang baru terbentuk,
Kota Bima memiliki karakteristik
perkembangan wilayah yaitu: pembangunan
infrastruktur yang cepat, perkembangan sosial
budaya yang dinamis, dan pertumbuhan jumlah
penduduk yang tinggi.
Sudah 10 tahun ini Kota Bima dipimpin oleh
seorang Walikota dengan peradaban Budaya
Dou Mbojo yang sudah mengakar sejak jaman
kerajaan hingga sekarang masih dapat terlihat
dalam kehidupan masyarakat Kota Bima dalam
kesehariannya. Baik sosial, Budaya dan Seni
tradisional yang melekat pada kegiatan
Upacara Adat, Prosesi Pernikahan, Khataman
Qur”an, Khitanan dan lain-lain serta bukti-
bukti sejarah Kerajaan dan Kesultanan masih
juga dapat dilihat sebagai Situs, Kepurbakalaan
dan bahkan menjadi Objek Daya Tarik Wisata
yang ada di Kota Bima dan menjadi objek
kunjungan bagi wisatawan lokal, nusantara
bahkan mancanegara.
Sumber daya alam Kota Bima juga memiliki
daya tarik tersendiri sebagai Obyek Daya Tarik
Wisata karena letak Kota Bima berada di bibir
Teluk yang sangat indah yang menawarkan
berbagai atraksi wisata laut dan pantai seperti;
berenang, berperahu, memancing, bersantai,
melihat kehidupan masyarakat nelayan serta
menikmati makanan khas desa tradisional
nelayan. Disisi lain alam dan hutan serta
hamparan sawah yang luas juga dapat dilihat di
Kota Bima.
Suku asli masyarakat Kota Bima adalah suku
Bima atau dikenal dalam bahasa lokal nya “Dou
Mbojo” dengan mayoritas beragama islam
dengan mata pencaharian nya Bertani,
Bertenak, Melaut dan sebagian Pegawai Negeri
Sipil. Salah satu ke-unikan Kota Bima adalah
sebagian dari masyarakat nya juga berasal dari
berbagai suku dan etnik di indonesia seperti;
Jawa, Sunda, Timor, Flores, Bugis, Bajo,
Madura, Sasak (Lombok), Bali, Minang dan
Batak sehingga memberi warna tersendiri
didalam keseharian mereka di Kota Bima (suku-
suku ini selalu memeriahkan upacara dan
pawai pada hari-hari besar di Kota Bima)
dengan hidup berdampingan secara rukun dan
damai serta suasana kondusif

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar